Ahok sudah mengambil keputusan sesudah tak menjabat Gubernur DKI Jakarta akan tidak berhimpun atau masuk partai politik manapun, juga tak punya niat menjabat sebagai menteri. Bahkan juga saat di tanya peluang jadi wapres, Ahok menyelutuk mustahil jadi petinggi di negara ini karna dikira kafir. Satu pernyataan yang begitu menyayat hati, fakta pahit untuk seseorang yang melawan arus ketidakbenaran di negeri ini, berjuang melakukan perbaikan system pemerintahan Ibu Kota Jakarta, bekerja dari pagi sampai malam untuk perbaikan kota serta warganya, namun ia memperoleh perlawanan dari banyak pihak yg tidak suka, ia memperoleh perlakuan tak mengasyikkan, serta memperoleh ujaran atau hujatan berbentuk kebencian. 

Karya serta kerjanya memuaskan warganya, namun tidak dengan support untuk meneruskan tugasnya. Namun Ahok tak perduli, baginya jabatan adalah amanah yang perlu diemban serta digerakkannya dengan baik serta seadil-adilnya tanpa ada melihat bulu. Dalam hatinya cuma menginginkan mengadministrasikan keadilan sosial untuk warganya, menginginkan menyejahterakan warganya, menginginkan memajukan kotanya, menginginkan merampungkan permasalahan krusial Ibu Kota Jakarta supaya kita sebagai Bangsa Indonesia bangga mempunyai Ibu Kota yang modern serta humanis. Agen PokerV


Mungkin saja kata yang pas untuk Ahok yaitu kecewa, sedih, geram, serta tentunya lelah. Kecewa dengan apa yang kembali kepadanya, warga lebih pilih tidak untuk memberi amanah padanya lagi walau sebenarnya apa yang dikerjakannya hanya yang paling baik untuk warga Jakarta. Sedih karna ada banyak hal yang menginginkan diperbaiki lagi untuk kota serta warga Jakarta, sedih karna belum selesai apa sebagai janjinya, sedih karna waktunya kurang untuk melakukan perbaikan semuanya. Geram karna masih tetap ada oknum-oknum yang masih tetap belum kapok untuk merugikan warganya, geram karna dengan kekalahannya bakal nampak kembali beberapa orang yang sudah disingkirkannya dahulu untuk kembali lakukan hal yang merugikan negara serta warga Jakarta terutama. Ahok tentu lelah melakukan serta hadapi apa yang berlangsung kepadanya sampai kini. Ahok senantiasa tutup semuanya kecapekan dari muka serta hatinya, karna tak bisa patah semangat. Jutaan harapan warga Jakarta ada di atas pundaknya, itu yang senantiasa dipikulnya mulai sejak menjabat di Jakarta. 


Ahok cuma salah seseorang warga negara Indonesia keturunan etnis China dengan beragama Kristen, dengan label minoritas yang menempel kepadanya bikin Ahok susah berkembang dalam percaturan poltik Indonesia karna sikapnya yang keras menentang praktik korupsi, tak ada arti kolusi serta nepotisme dalam benaknya. Perjuangan Ahok menginginkan Indonesia jadi tambah baik layaknya seperti seekor ikan nemo dalam kutipan film animasi produksi negara Amerika berjudul Finding Nemo. Melawan arus yang salah serta sudah mendarah daging di Indonesia bukanlah perkara mudah, terlebih dikerjakan oleh seseorang double monority seperti Ahok. Dari pertama Ahok berupaya untuk mendidik rakyat dalam beberapa hal seperti evaluasi berpolitik, berbirokrasi, berdemokrasi yang benar. Ahok senantiasa berupaya buka wawasan rakyat Indonesia, Ahok menginginkan buka mata serta hati rakyat Indonesia untuk lebih sensitif pada nilai-nilai kebenaran bukanlah pembenaran. Untuk mengubah karakter satu bangsa yang sudah tertanam begitu dalam tidaklah gampang seperti membalikan telapak tangan, Presiden Joko Widodo sendiri berkemauan lakukan revolusi mental pada bangsa Indonesia termasuk juga birokrasi-birokrasi pemerintahan pusat serta daerah. Poker Online Terpercaya

Lihat apa yang berlangsung serta dihadapi Ahok, bikin pada akhirnya ia kapok untuk terjun ke dunia politik. Kita bisa melihat kehidupan berdemokrasi di Indonesia, kehidupan berpolitik Indonesia begitu ganas serta liar. Sesungguhnya bukanlah karna Ahok yang double minority sebagai masalahnya paling utama, namun karna Ahok bukanlah orang yang dapat di ajak kompromi untuk korupsi, Ahok bukanlah orang yang bisa di ajak kompromi untuk berkolusi serta nepotisme, Ahok bukanlah orang yang gampang dibohongi oleh segelintir orang yang menginginkan merugikan negara serta rakyat. Tersebut argumen paling utama Ahok senantiasa ingin dijegal. Primordial cuma adalah argumen pendukung karna kita saksikan ada kepala daerah lain yang dari putera daerah serta beragama non muslim, atau bahkan juga ada yang double minority juga menjabat sebagai kepala daerah.


Tetapi meskipun sekian, karakter rasialis oleh golongan sebagian besar pada sekumpulan orang cukup meresahkan. Terlebih sekarang ini kita mulai rasakan masalah yang mulai tumbuh yakni ada gerakan ormas yang berideologi khalifah. Bahkan juga pendoktrinan dikerjakan di semua jaringan, dari lembaga pemerintah, masjid-masjid, pengajian-pengajian, pesantren, bahkan juga sekolah-sekolah. Dari yang tua sampai anak kecil, baik lelaki ataupun perempuan. Gerakan masif yang dahulu dikerjakan dengan cara terselubung saat ini telah lebih berani serta terang-terangan.

Lebih menyedihkan lagi untuk etnis Tionghoa Indonesia non musim yang kerap terima perlakuan rasial serta diskriminasi dari sekumpulan orang yang mengakui sebagian besar muslim. Perlakuan tidak cuma berbentuk perlakuan intimidasi, namun juga hujatan serta ujaran kebencian. Bahkan juga kerap mengedar video di sosial media yang bebrapa riil menginginkan mengusir suku Tionghoa atau Cina non muslim dari bumi Indonesia meskipun orang itu adalah warga negara Indonesia sah. Penanaman doktrin kebencian yang sangatlah mencemaskan. Butuh dipertanyakan apa salah WNI keturunan Tionghoa terutama non muslim di Indonesia? Lahir, hidup, serta mati juga di Indonesia, apakah masih tetap butuh terima perlakuan diskriminasi? Perlakuan sebagai minoritas telah cukup dirasa dari birokrasi pemerintah, ini ditambah oleh beberapa orang yang arogan serta bertandingk cuma karna adalah sebagian besar di Indonesia. Bahkan juga salah seseorang ulama MUI ikut mengujar kebencian serta hasutan pada etnis Cina pada akun sosial medianya, sungguh begitu disayangkan sebagai pemuka agama namun mempunyai karakter yang begitu jelek. Tidakkah senantiasa disebutkan ajaran agama Islam itu rahmatan lil alamin? Apa mesti begini yang senantiasa dihadapi oleh golongan minoritas terutama etnis Tionghoa non muslim di Indonesia? Perlakuan diskriminasi ini tampak kentara berlangsung pada etnis Tionghoa dalam kehidupan keseharian bila dibanding etnis atau suku minoritas yang lain. Fanatisme sah-sah saja, namun tetaplah mesti melindungi toleransi karna tak ada ajaran agama yang mengajarkan kebencian. Sama-sama menghormati serta menghormati antar pemeluk agama yang tidak sama. Bandar Poker Online


Satu hal riil juga tampak terang dalam kehidupan keseharian, di mana doktrin ideologi atau memahami khilafah yang tertanam dalam benak muslim Indonesia jadikan pola fikir absolut sebagai pribumi di negara Indonesia. Bahkan juga pemeluk agama Islam baik suku apa pun tetaplah dikira sebagai orang pribumi bila dibanding non muslim. Riil tampak terlebih cuma suku etnis Cina dikira non pribumi di Indonesia, namun suku atau etnis dari Arab, Pakistan, Bangladesh, dan lain-lain masih tetap dikira pribumi. Satu aksi diskriminasi yang telah sangat kronis. Bila penempelan label pribumi pada orang Indonesia cuma karna berdasar pada agama, bermakna orang pribumi bukanlah orang yang beragama Islam. Seperti artikel yang pernah saya catat di Seword berjudul Nasionalisme Tionghoa Indonesia, nenek moyang Bangsa Indonesia datang dari Bangsa Austronesia (yang tempati daerah jawa maupun Indonesia sisi barat) serta Bangsa Melanesia (yang tempati pulau-pulau Indonesia sisi Timur). Bangsa Austronesia disebutkan datang dari Asia Timur atau lebih spesifiknya Pulau Formosa/Taiwan.

Bangsa Indonesia sebelumnya mengetahui agama, berpedoman animisme (pemujaan roh-roh) serta dinamisme (pemujaan benda-benda keramat). Agama Hindu serta Buddha masuk ke Indonesia sekitaran era ke 4 Masehi, agama Islam serta Kristen masuk ke Indonesia sekitaran era ke 7 Masehi. Bila diliat dari histori kerajaan-kerajaan Hindu serta Buddha berkembang pada era 4 – 7 Masehi sampai era 16 Masehi, pemeluk agama paling banyak yaitu Hindu serta Buddha. Pada era ke-12 mulai nampak kerajaan Islam di Indonesia serta makin berkembang menukar kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha yang mulai roboh. Makin berkembang luas kerajaan Islam ataupun Kesultanan Islam sampai sekarang ini jadikan Bangsa Indonesia sebagian besar memeluk agama Islam. Serta sampai sekarang ini menempel arti sebagian besar serta minoritas dalam ketidaksamaan pemeluk agama yang ada di Indonesia. Agen Capsa Susun


Jadi pribumi serta non pribumi tak dapat didasarkan karna agama ataupun suku, karna pada saat penjajahan Belanda dululah bikin pembagian kelompok untuk memecah iris Bangsa Indonesia sendiri. Ditambah pada saat Orde Baru yang juga memojokkan etnis Cina di Indonesia, makin memperuncing pemahaman itu.

Ahok bahkan juga merencanakan untuk menekuni serta meningkatkan acara talkshownya dari pada menekuni dalam dunia perpolitikan. Lumrah saja bila itu pilihan Ahok, serta beberapa pilihan etnis Tionghoa di Indonesia yakni melakukan bisnis. Hal semacam ini tampak riil di mana sulitnya untuk golongan Tionghoa memperoleh kesamaan hak terlebih dalam pemerintahan atau petinggi umum. Sebagai politisi dengan predikat double minority kepadanya, Ahok mesti melindungi integritas serta mutunya dengan baik. Dengan karakter serta karakternya, Ahok selama ini sukses melindungi integritasnya, walaupun kekurangannya dalam bertutur kata serta langkah berkomunikasi. Tetapi sebagai manusia yg tidak prima, Ahok tambah baik dari pada politisi-politisi santun namun korupsi merugikan negara serta rakyat Indonesia. Korupsi sama dengan mengambil, bahkan juga korupsi sudah jadi penyakit kritis terparah dalam kehidupan berbangsa serta bernegara. Dengan korupsi, pemerataan pembangunan tidak bisa dikerjakan, kesejahteraan rakyat Indonesia juga turut terancam serta tak terjadinya keadilan sosial hingga muncul kemiskinan, negara akan tidak dapat maju karna duit untuk pembangunan masuk ke kantong pribadi. Agen BandarQ

Lihat fakta ini, begitu pas juga Ahok menekuni dalam acara talkshow yang gagasannya bekerja bersama dengan satu diantara stasiun tv. Maksudnya Ahok jadi pembicara, dari sini Ahok dapat juga berpartisipasi mendidik rakyat. Jadi Ahok tak mesti ada di pemerintahan, karna kita ketahui sepanjang jadi petinggi Ahok senantiasa terserang banyaknya pihak. Seperti guru untuk mendidik muridnya, Ahok memakai langkahnya sendiri untuk berupaya mencerdaskan rakyat Indonesia dalam beberapa hal seperti sampai kini yang diharapkannya. Ahok menginginkan mendidik serta buka wawasan orang untuk memakai logika serta rasionalitas dalam kehidupan. Kita tunggulah saja kapan gagasan Ahok untuk mengawali acaranya. Mudah-mudahan saja memberi faedah untuk kita semuanya nantinya.

Kita juga tak pernah dapat meramalkan apa yang bakal berlangsung di saat akan tiba, apakah gagasan Ahok ini murni hasratnya serta terlepas dari perpolitikan Indonesia? Sedang kita ketahui Ahok begitu kuat serta tegar sampai sekarang ini melakukan kehdupannya sebagai politisi, bahkan juga tujuannya untuk selalu menolong manusia miskin dalam mengadministrasikan keadilan sosial di Indonesia tak pernah surut. Politik penuh dengan drama, penuh dengan sandiwara, penuh dengan taktik serta intrik. Cuma mereka-mereka sebagai pemainnyalah yang lebih tahu apa yang bakal dikerjakan, kita sebagai pemirsa cuma dapat melihat serta menerka-nerka.

Bila memanglah seorang sudah punya niat untuk memberi peran paling baik buat bangsa serta negara, jadi bakal senantiasa ada jalan serta langkah yang dikerjakannya. Bangun bangsa serta negara bisa dikerjakan dalam segalanya. Janganlah lihat latar belakang agama, suku, ras ataupun kelompok dari tempat mana, selama lakukan hal positif untuk umat manusia, bangsa serta negara.
Share To:

Jesslyn Huang

Post A Comment:

0 comments so far,add yours