Kemenangan Anies Sandi melawan Ahok dalam Pilkada DKI cukup mengejutkan bagi sebagian orang. Jakarta yang merupakan ibu kota, barometer nasional, rupanya berhasil dikalahkan dengan isu SARA.Agen PokerV


Alasan rakyat Jakarta memilih Anies adalah karena satu agama (33%) lainnya (21%) merakyat (14%) serta Jujur dan bersih (12%).

Sebaliknya Ahok dipilih karena jujur dan bersih (33%), Berani dan tegas (21%), program kerja (18%) serta berpengalaman (15%).

Ahok kalah telak di alasan agama, karena hanya dipilih oleh 0,4 %. Terlepas bahwa Anies kalah jauh soal ketegasan 3,2%, program 4,9%, pengalaman 1.5% bahkan jujur dan bersih pun masih kalah jauh dari Ahok, rupanya itu tidak terlalu berpengaruh. Sebab yang terpenting dari faktor kemenangan Anies adalah karena alasan satu agama. Sebaliknya faktor paling kuat dari suara Ahok adalah karena jujur dan bersih. 


Baca Juga : 70% Rakyat Jakarta Puas Atas Kinerja Ahok, Tapi tak Memilihnya Karena Agamanya Beda

Dari statistik ini, saya jadi berpikir bahwa Pancasila, hak warga negara sama di sisi undang-undang, kebhinekan dan keberagaman yang begitu kita banggakan, rupanya masih belum begitu sempurna. Kita belum bisa menerima pemimpin kota yang nonmuslim. Belum bisa menerima etnis China sebagai pejabat publik.

Tidak peduli seberapa bagus kinerjanya, kejujuran, ketegasan, program serta pengalamannya, jika tidak seagama maka mereka tidak pantas untuk memimpin. Sebaliknya, sekalipun tidak bisa bekerja, tidak jujur, tidak tegas, tidak jelas programnya dan tidak berpengalaman, asal seagama masih bisa diterima. Bandar Poker Online

Sehingga kita tidak perlu heran jika Jawa Barat yang tidak melakukan perubahan signifikan, sampah dibiarkan dan hanya diharamkan, banjir terus menelan korban jiwa dan seterusnya, tetap mampu mempertahankan Gubernurnya selama 2 periode. Tidak pernah juga mendapat penolakan atau terbentuknya Gubernur tandingan.



Di banyak daerah kabupaten dan kota, saya juga melihat alur alasan yang sama. Pemenang kontestasi politik bukanlah orang yang berhasil memberikan solusi, bekerja jujur dan tegas, atau berpengalaman dalam mengelola kota, tapi karena seorang tokoh agama atau minimal didukung oleh tokoh agama. Silahkan pembaca Seword renungkan sendiri, siapa Bupati atau Walikota kalian? 

Benarkah terpilih karena bisa bekerja atau hanya karena merupakan ustad, kyai atau didukung oleh tokoh agama?
Jadi ke depan kita tidak perlu terlalu kaget kalau negara ini hanya jalan di tempat tanpa ada perubahan yang signifikan. Jokowi hanya satu orang Presiden, tapi pemimpin di daerahnya? 

Hanya bisa dihitung jari yang benar-benar bisa bekerja. Sehingga dengan kondisi seperti ini, beberapa kali Presiden Jokowi harus pontang-panting sendiri turun ke pelosok negeri. Bayangkan, sampai hal sekecil alat kebutuhan sekolah seperti tas saja harus Presiden langsung yang kirim. Pemimpin daerahnya ke mana? Apa tidak malu? Rasanya malah tidak mau tahu. Sebab memang kebanyakan terpilih karena ketokohan, bapaknya tokoh, kakeknya ulama, dan seterusnya.Poker Online Terpercaya
Jakarta - Warga sudah ramai di Balai Kota sejak pagi menanti kedatangan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Selain ingin berkeluh kesah, warga ingin memberi bunga dan ucapan terima kasih kepada Ahok, yang telah melayani dengan hati warga Ibu Kota.

Relita dan temannya ingin memberi bunga dan berterima kasih kepada Ahok


Salah satunya Relita, yang datang ke Balai Kota untuk memberi Ahok buket bunga cantik. "Mau ngasih Pak Ahok semangat. Sesuai sama tulisan ini," kata Relita sambil menunjukkan buket bunga yang dibawanya, Jumat (21/4/2017).

Dengan memakai kebaya, ia membawa buket bunga bertuliskan, "Terima Kasih Pak Ahok. Bapak telah menyemangati dan menginspirasi Indonesia. Tetaplah bersinar!"

Warga Kelapa Gading ini sudah berada di Balai Kota sejak pukul 06.55 WIB. Ia bersama seorang temannya, warga Cawang, Hanny, juga ingin memanfaatkan momen berfoto bersama Ahok.

"Tetap semangat, tetap berkarya untuk kemajuan bangsa di bidang yang lain. Sesuai dengan passion," ujar mereka.







Selain memberi semangat pada masa pemerintahan Ahok hingga Oktober nanti, mereka mengucapkan optimisme kepada gubernur yang baru selanjutnya.

"Gubernur yang baru nanti optimistis jalan. Kan banyak perangkat lain yang ikut mendukung. Harapannya meneruskan program yang sudah baik," kata Relita.

Warga lain tampak menanti kedatangan orang nomor satu di Ibu Kota itu. 


 
Share To:

Unknown

Post A Comment:

0 comments so far,add yours