Ahli bahasa Bambang Kaswanti Purwo dari Kampus Atmajaya menyampaikan semua konteks pidato Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok di Kepulauan Seribu, tunjukkan tak ada maksud penistaan kitab suci. 
Bambang menerangkan kalau pengetahuan bhs tak mengulas sensitif atau bagaimana tujuannya, tetapi cuma mengulas arti dari suatu kalimat, lapor BBC Mehulika Sitepu dari sidang ke-16 Perkara Ahok yang didakwa menista agama.
" Kita mesti tahu topik atau tema paling utama yang menginginkan di sampaikan Gubernur saat kunjungan kerja ke Pulau Seribu, " kata Bambang di pengadilan, seperti disampaikannya lagi pada wartawan.. Agen PokerV



" Dengan cara pemahaman, saya memaknai kalau Gubernur menginginkan program yang dikerjakan oleh Pemda DKI tetaplah jalan di Pulau Seribu walau ada peluang ada kendala. Di situ dia narasi program ini mesti sukses tetapi dia cemas program ini gagal, " lebih Bambang.
" Dia narasi pengalaman dia mengenai Pilkada terlebih dulu dibanding Pilkada yang bakal berlangsung. pengucapan 'dibohongi Pakai Surat Al Maidah, ' sebenarnya itu konsentrasi intinya. Itu cuma ilustrasi saja. Yang utama program Gubernur sukses, program budi daya laut di Pulau Seribu. "
Dalam persidangan yang berjalan di Auditorium Gedung Kementerian Pertanian pada Rabu (29/3) itu, Bambang dicecar oleh Jaksa Penuntut Umum tentang pemakaian kata 'pakai' dalam kalimat 'dibohongi gunakan Al Maidah'.

Bambang menjawab penggunaan kata 'pakai' dalam konstruksi bahasa mirip dengan 'berlindung di balik Surat Al Maidah' seperti yang tertulis dalam buku.Poker Online Terpercaya

JPU juga mencecar mengenai jawaban Bambang dalam BAP yang mengatakan satu kalimat yang menjadi sumber perkara, "jangan mau dibohongi pakai Al Maidah," bukan bagian yang penting dari konteks pidato Basuki Tjahaja Purnama.

"Anda bukan psikolog, mengapa Anda bisa mengetahui mana yg penting mana yg tidak penting?" tanya Jaksa kepada Bambang.

"Penting dan tidak penting bisa lewat struktur bahasa. Ada induk kalimat, ada anak kalimat. Yg lebih penting muncul dalam induk kalimat. Analisa saya, struktur tadi, tidak dalam induk kalimat," jawab Bambang.



Jaksa mencecar lagi Bambang tentang apakah ada hal sensitif atau tidak sensitif yang terkandung dalam kalimat.

Bambang menjelaskan, "sensitif atau tidak, tidak pernah dibahas dalam linguistik. Niat juga tidak ada dalam bahasa."

Sidang ke-16 penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama menghadirkan 6 saksi ahli lain. Sidang berikutnya, menurut tim kuasa hukum, akan menghadirkan beberapa saksi fakta, diantaranya Basuki Tjahaja Purnama sendiri.

Salah satu ahli yang dihadirkan pengacara, Nur Azis Said, ahli hukum dari Universitas Sudirman, Purwokerto, berhalangan hadir di sidang yang berlangsung di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan.Bandar Poker Online

Tim pengacara meminta majelis hakim agar pernyataan Nur Azis dibacakan di persidangan. Dan jaksa meminta hakim untuk tidak mengizinkan pembacaan pernyataan itu.

Namun ketua majelis hakim, Dwiharso Budi Santiarto, menolak permintaan jaksa, dan mengizinkan pembacaan pernyataan Nur Azis Said, karena pernyataan itu diberikan di bawah sumpah saat pengambilan keterangan untuk Berita Acara Pemeriksaan




Ini kesempatan terakhir bagi tim pengacara Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, untuk para saksi dan ahli di pihaknya.

"Ada tujuh orang ahli hari ini, terdiri dari ahli agama, ahli bahasa, dan ahli psikologi sosial," kata Trimoelja Soerjadi, salah satu pengacara Ahok, kepada wartawan menjelang sidang.

"Jadi akan diungkapkan, keadaannya bagaimana ketika pidato Pak Ahok itu, Body language (bahasa tubuh) orang-orang saat itu. Bagaimana suasananya yang banyak kegembiraan, ketawa, tepuk tangan, dalam pidato sepanjang 1 jam 48 menit. Kalau ada penodaan agama, pasti suasananya lain," tandas Trimoelja Soerjadi pula.

Sebagaimana berbagai sidang sebelumnya, beberapa ratus orang datang melangsungkan mimbar bebas, yang terbagi dua kelompok: pendukung Ahok yang umumnya berpakaian kotak-kotak hitam mereah, dan para penentang Ahok yang umumnya berpakaian serba putih.

Para pendukung Ahok banyak menari-nari kendati sesekali melakukan orasi, sementara para penentangnya lebih banyak melakukan orasi dan meneriakkan yel-yel.

Share To:

Jesslyn Huang

Post A Comment:

0 comments so far,add yours